Ketika Negara Membaca Pramoedya Ananta Toer: Sastra, Politik, dan Ingatan yang Direstorasi

Mar 9, 2026 - 09:46
 0
Ketika Negara Membaca Pramoedya Ananta Toer: Sastra, Politik, dan Ingatan yang Direstorasi

MNAINDONESIA.ID - Seratus tahun adalah usia biologis sekaligus usia simbolik. Pada angka itu, seseorang tidak lagi sekadar dikenang sebagai individu, tetapi sebagai jejak peradaban. Buku 100 Tahun Pramoedya Ananta Toer: Sastra, Politik, Narasi, dan Kemanusiaan hadir bukan hanya sebagai bunga rampai akademik, melainkan sebagai peristiwa kultural. Ia menjadi penanda bahwa ingatan terhadap Pramoedya Ananta Toer telah memasuki fase baru: dari kontroversi menuju kanonisasi.

Yang membuat buku ini memiliki resonansi khusus adalah keberadaan kata pengantar Menteri Kebudayaan Republik Indonesia. Negara, melalui otoritas kebudayaannya, secara resmi menyapa kembali seorang sastrawan yang pada masa lalu pernah berada dalam pusaran represi politik. Di titik inilah buku ini melampaui fungsi editorialnya dan berubah menjadi simbol politik ingatan.

Pramoedya adalah sastrawan yang melintasi rezim, melintasi ideologi, dan melintasi luka sejarah Indonesia. Ia menulis sejak awal 1950-an, dengan karya-karya seperti Keluarga Gerilya dan Perburuan, lalu mencapai puncak estetik dan historisnya dalam tetralogi Bumi Manusia. Dalam novel-novelnya, sejarah bukan sekadar latar, melainkan medan pertempuran makna. Ia menuliskan kolonialisme, kebangkitan nasional, dan martabat manusia dalam bahasa yang sekaligus realistis dan puitis. Namun perjalanan kreatifnya tidak pernah steril dari politik. Ia dipenjara tanpa pengadilan, karyanya pernah dilarang, namanya lama diletakkan dalam ruang kecurigaan ideologis. Dalam konteks itu, buku peringatan seratus tahun ini menyiratkan sesuatu yang lebih dalam: rekonsiliasi simbolik antara negara dan narasi yang dahulu dianggap berseberangan.

Apakah ini bentuk pengakuan yang tulus? Ataukah sekadar ritual perayaan tanpa pembacaan kritis? Pertanyaan itu tidak perlu dijawab secara hitam-putih. Yang lebih penting adalah menyadari bahwa ingatan kolektif selalu bersifat dinamis. Apa yang dulu dibungkam, kini diarsipkan. Apa yang pernah disisihkan, kini dirayakan sebagai warisan.

Dalam kata pengantar disebutkan bahwa membaca Pramoedya adalah membaca sejarah melalui karya sastra. Pernyataan ini penting. Pramoedya tidak menulis sejarah dalam bentuk kronologi akademik, tetapi melalui tokoh-tokoh yang bergulat dengan kolonialisme, feodalisme, dan kekuasaan. Ia memperlihatkan bahwa sejarah bukan hanya milik arsip negara, melainkan juga milik pengalaman manusia biasa.

Di sinilah letak kekuatan buku ini. Ia menghimpun para akademisi untuk membaca kembali Pramoedya dari berbagai perspektif: sastra, politik, narasi, dan kemanusiaan. Dengan demikian, Pramoedya tidak dibekukan sebagai ikon, tetapi dipertahankan sebagai medan dialog. Ia tetap terbuka untuk ditafsir, diperdebatkan, bahkan dikritik.

Dalam dunia literasi yang kini bergerak cepat, dangkal, dan sering performatif, membaca Pramoedya kembali adalah latihan kesabaran intelektual. Ia mengajarkan bahwa narasi memiliki tanggung jawab etis. Ketika ia menulis tentang perempuan dalam Gadis Pantai, atau tentang tahanan politik dalam kisah-kisah pengasingan, ia tidak menjadikan penderitaan sebagai komoditas. Ia mengembalikan martabat kepada yang terpinggirkan melalui detail, kedalaman psikologis, dan keberanian moral.

Seratus tahun Pramoedya bukan sekadar peringatan usia, melainkan momentum untuk menata ulang relasi antara sastra dan kekuasaan. Sastra yang baik tidak pernah sepenuhnya nyaman bagi negara, karena ia selalu menyimpan daya kritik. Namun negara yang matang justru mampu merangkul kritik sebagai bagian dari dinamika kebudayaan.

Buku ini, dengan pengantar Menteri Kebudayaan, memperlihatkan bahwa kebudayaan dapat menjadi ruang rekonsiliasi—bukan dengan menghapus sejarah, melainkan dengan membacanya kembali secara dewasa. Pramoedya kini tidak lagi ditempatkan dalam sekat ideologis yang kaku, tetapi dalam horizon kemanusiaan yang lebih luas.

Pada akhirnya, membaca Pramoedya hari ini adalah membaca diri kita sendiri sebagai bangsa: bagaimana kita memperlakukan perbedaan, bagaimana kita mengelola ingatan, dan bagaimana kita memaknai kebebasan berpikir. Sastra, dalam tangan Pramoedya, selalu menjadi ruang untuk mempertanyakan kekuasaan dan merawat martabat manusia.
Seratus tahun telah lewat. Namun pertanyaan-pertanyaan yang diajukan Pramoedya belum selesai. Justru di situlah relevansinya: ia terus mengganggu, mengingatkan, dan mengajak kita berpikir.

Mungkin, itulah penghormatan paling jujur—bukan sekadar merayakan namanya, tetapi melanjutkan keberanian intelektualnya.

Jakarta, 8 Maret 2026

Buku diterbitkan oleh HISKI setebal 1055 halaman dan ada 100 penulis di dalam buku itu. Editor: Prof. Dr. Novi Anoegrajekti, M. Hum (Ketua Umum HISKI), Prof. Dr. Yoseph Yapi Taum, M. Hum. (HISKI USD), Sudartomo Macaryus, M.Hum (HISKI UST-UTY), Dr. Sastri Sunarti, M. Hum. (Wakil Ketua III HISKI Pusat), Prof. Dr. Aprinus Salam, M.Hum. (HISKI UGM), Dr. M. Shoim Anwar, M.Pd. (HISKI Unesa), Prof. Dr. Djoko Saryono, M.Pd. (HISKI Malang), Prof.Dr. Nyoman Darma Putra, M.Litt. (HISKI Bali)

Nia Samsihono

HISKI adalah Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia.

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow