Prof Rokhmin Ungkap Fakta Penyelamat Bangsa di Tengah Dinakima Global

Apr 4, 2026 - 04:16
 0
Prof Rokhmin Ungkap Fakta Penyelamat Bangsa di Tengah Dinakima Global

MNAINDONESIA.ID - Di tengah hiruk-pikuk isu politik, ekonomi digital, hingga pertahanan militer yang kerap dianggap sebagai penentu masa depan negara, ada satu fakta mengejutkan yang justru luput dari perhatian banyak orang: nasib sebuah bangsa sesungguhnya tidak ditentukan oleh seberapa canggih senjatanya atau seberapa kuat mata uangnya, melainkan oleh sesuatu yang jauh lebih mendasar, yakni ketersediaan pangan. 

Hal ini disampaikan oleh Pakar kelautan sekaligus tokoh nasional, Prof Rokhmin Dahuri di  dalam program Talk Highlight di Radio Elshinta, Kamis (2/4/2026).

Anggota Komisi IV DPR RI ini mengingatkan, dari lima kebutuhan dasar manusia pangan, sandang, papan, kesehatan, dan pendidikan pangan adalah yang paling vital.

“Kecerdasan seseorang ditentukan oleh asupan gizi. Tanpa pangan yang cukup, bangsa akan kehilangan daya saing,” ujarnya.

Ketahanan pangan bukan lagi sekadar isu pertanian, melainkan garis pertahanan terakhir yang menentukan apakah sebuah bangsa mampu bertahan atau justru tumbang perlahan dari dalam. Inilah benteng sunyi yang jarang disorot, tetapi menjadi penentu hidup mati sebuah negara. Ketika pangan aman, bangsa kuat. Namun ketika pangan terganggu, seluruh sendi kehidupan bisa runtuh dalam sekejap, tanpa perlu satu peluru pun ditembakkan.

Ia menyambut langkah Presiden Prabowo dengan nada harap yang hangat—sebuah keputusan yang menempatkan swasembada pangan bukan sekadar program, melainkan napas bagi keberlangsungan bangsa. Ingatannya melayang pada pidato Bung Karno, 7 April 1957, saat batu pertama Fakultas Pertanian Universitas Indonesia diletakkan. Dalam gema sejarah itu, tersimpan pesan yang tak lekang oleh zaman: pangan adalah hidup dan matinya sebuah bangsa.

Mengacu pada riset FAO tahun 2000, ia menuturkan dengan tenang namun tajam, bahwa negeri berpenduduk ratusan juta yang menggantungkan perutnya pada impor tak akan pernah benar-benar berdiri tegak sebagai bangsa yang berdaulat. Terlebih kini, ketika konflik global dan krisis iklim merajut ketidakpastian, menjadikan rantai pasok pangan dunia kian rapuh—seperti jaring yang menua diterpa badai.

Sebagai Rektor Universitas UMMI Bogor, ia mengabarkan secercah kabar baik: produksi beras negeri ini telah melampaui kebutuhan. Namun, ia mengingatkan, kelimpahan bukanlah akhir dari persoalan. Sebab yang lebih sunyi dan sering terlupakan adalah keadilan akses—apakah setiap anak bangsa benar-benar dapat menjangkau pangan itu dengan layak.

Jagung, garam, dan cabai telah berdiri di kaki sendiri. Namun gandum, kedelai, bawang putih, dan daging sapi masih terikat pada pasar luar. Di sanalah kerja panjang itu terus dirajut bahu membahu, menanam harapan pada kemandirian.

Ia pun membuka lembar sejarah yang getir: krisis pangan 2008, ketika kelaparan mengguncang bukan hanya perut, tetapi juga kekuasaan. Negara runtuh bukan oleh peluru, melainkan oleh kosongnya lumbung.

Dalam dunia yang terus bergejolak, perang memutus aliran, iklim mengikis kesuburan, dan bencana menghapus jejak panen. Namun di tengah ancaman itu, ia melihat secercah cahaya: teknologi. Digitalisasi, bioteknologi, hingga kecerdasan buatan—semua adalah alat, jika diarahkan dengan bijak, dapat menjadi penjaga masa depan pangan.

Tetapi ia mengingatkan, teknologi tanpa keberpihakan hanyalah gema kosong. Ia harus berpijak pada petani, nelayan, dan rakyat kecil—mereka yang sesungguhnya menjadi penjaga senyap ketahanan bangsa.

Diskusi itu pun berakhir dalam satu simpul kesadaran: bahwa ketahanan pangan bukan sekadar agenda, melainkan benteng terakhir. Sebab ketika pangan goyah, maka goyahlah seluruh sendi kehidupan. Namun ketika pangan kokoh, di sanalah bangsa menemukan daya tahannya diam, namun tak tergoyahkan.

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow