HISKI Gelar Bincang Buku Humaniora Digital di Hari Pahlawan

Nov 11, 2025 - 07:09
 0
HISKI Gelar Bincang Buku Humaniora Digital di Hari Pahlawan

MNAINDONESIA.ID - Bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan, Senin 10 November 2025, Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia (HISKI) bekerja sama dengan Universitas Negeri Jakarta dan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menggelar acara peluncuran dan bincang buku berjudul Humaniora Digital.

Kegiatan berlangsung di Ruang Sasadu, Badan Bahasa, Rawamangun, Jakarta Timur, mulai pukul 09.00 hingga 12.00 WIB.

Ketua Umum HISKI Pusat, Prof. Dr. Novi Anoegrajekti, M.Hum., dalam sambutannya menyampaikan bahwa buku Humaniora Digital merupakan hasil kerja kolaboratif selama tiga tahun dan memiliki tebal 982 halaman. Ia menegaskan bahwa buku ini menjadi tonggak penting karena merupakan karya pertama yang diterbitkan oleh penerbit milik HISKI sendiri.
“Naskah ini telah melalui proses yang panjang dan menjadi simbol dedikasi akademik. Peluncurannya di Hari Pahlawan menjadi wujud perjuangan kepahlawanan intelektual,” ujar Novi.

Sambutan berikutnya disampaikan oleh Dr. Ganjar Harimansyah, M.Pd., Sekretaris Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, yang mewakili Kepala Badan Bahasa. Ia menyambut baik penerbitan buku tersebut sebagai langkah penting dalam memperkuat bidang sastra, bahasa, dan kebudayaan di era digital. Ganjar juga mendorong agar HISKI terus melanjutkan penerbitan seri-seri berikutnya dengan tema yang lebih spesifik dan aplikatif.

Dalam sesi utama, hadir dua narasumber utama, yakni Prof. Dr. Dedi Purwana E.S., M.Bus., Guru Besar bidang Ekonomi sekaligus Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta, dan Dr. Martin Suryajaya, M.Hum., Wakil Direktur Sekolah Pascasarjana Institut Kesenian Jakarta.

Prof. Dedi Purwana memaparkan materi bertema “Humaniora Digital dalam Menghadapi Tantangan Global, Perubahan Sosial, dan Ekonomi.” Ia menyoroti perlunya bidang humaniora beradaptasi terhadap perkembangan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI) dan machine learning dalam penelitian budaya, sastra, dan sosial. Dedi juga menekankan pentingnya pemanfaatan teknologi untuk analisis teks, digitalisasi arsip, serta penelitian berbasis data besar. Namun, ia mengingatkan adanya tantangan berupa kesenjangan akses, persoalan etika, privasi, dan hak cipta yang perlu diantisipasi.

Sementara itu, Dr. Martin Suryajaya membahas tema “Masa Depan Humaniora Digital.” Ia menjelaskan bahwa buku Humaniora Digital merupakan karya berbahasa Indonesia pertama yang mengupas bidang tersebut secara komprehensif, mencakup empat kelompok utama: literasi dan transformasi digital, ekosistem sastra dan media digital, seni tradisi dan digitalisasi, serta manuskrip dan industri kreatif di era digital.

Martin juga membedakan dua pendekatan dalam memahami humaniora digital: pertama, pendekatan luas yang mencakup semua riset tentang budaya digital; kedua, pendekatan sempit yang menitikberatkan pada penerapan teknologi komputasi untuk riset humaniora. Berdasarkan analisisnya terhadap isi buku, Martin menilai bahwa tema-tema yang muncul masih dominan pada ranah pembelajaran dan budaya dibanding metodologi komputasional. Ia mengusulkan empat langkah strategis untuk memperkuat bidang ini di Indonesia: pembentukan laboratorium humaniora digital di perguruan tinggi, pengembangan Korpus Sastra Nasional terdigitalisasi, penyelenggaraan simposium tahunan, serta penyediaan hibah riset khusus untuk pengembangan humaniora digital.

Acara dipandu oleh moderator Sudartomo Macaryus, M.Hum., dan dihadiri lebih dari 70 peserta secara luring serta sekitar 150 peserta daring melalui platform Zoom dan YouTube. Para peserta berasal dari kalangan akademisi, peneliti, dan pegiat literasi dari berbagai wilayah.

Di akhir acara, Prof. Novi Anoegrajekti menegaskan bahwa peluncuran buku ini merupakan bagian dari “Tahun Buku HISKI 2025”, yang menargetkan penerbitan sedikitnya lima buku ilmiah bermutu tinggi. Program tersebut diharapkan dapat memperkuat jaringan penulis, membangun ekosistem literasi nasional yang inklusif, serta menjadikan HISKI sebagai motor penggerak kemajuan humaniora di era digital.

Buku Humaniora Digital diharapkan menjadi rujukan utama bagi para akademisi, peneliti, dan mahasiswa dalam memahami peran teknologi dalam riset budaya dan sastra, sekaligus memperkokoh kontribusi Indonesia dalam pengembangan ilmu humaniora di tingkat global.

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow