Teknologi Kunci Kedaulatan Pangan Indonesia

Jan 20, 2026 - 07:20
 0
Teknologi Kunci Kedaulatan Pangan Indonesia

MNAINDONESIA.ID - Pemanfaatan teknologi dinilai menjadi kunci utama dalam mewujudkan kedaulatan pangan nasional sekaligus mendorong lompatan ekonomi Indonesia. Hal tersebut disampaikan Anggota Komisi IV DPR RI, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS, dalam sebuah diskusi nasional yang membahas penguatan sektor pangan strategis.

Menurut Prof. Rokhmin, pengalaman banyak negara menunjukkan bahwa kemajuan teknologi selalu berbanding lurus dengan peningkatan produktivitas dan kesejahteraan masyarakat. Tanpa inovasi dan penerapan teknologi modern, sektor pangan —yang meliputi pertanian, perikanan, dan peternakan akan sulit berkembang secara berkelanjutan dan berdaya saing.

Ia menyoroti kondisi faktual di Indonesia, di mana lebih dari 80 persen aktivitas produksi pangan masih dilakukan secara tradisional. Pola usaha yang minim teknologi tersebut berdampak pada rendahnya produktivitas, tingginya biaya produksi, serta terbatasnya nilai tambah yang diterima petani dan nelayan. Situasi ini, kata dia, menjadi salah satu penyebab utama ketertinggalan sektor pangan dalam menopang pertumbuhan ekonomi nasional.

Prof. Rokhmin menegaskan bahwa transformasi teknologi harus menjadi agenda prioritas negara. Mekanisasi pertanian, digitalisasi rantai pasok, pemanfaatan bioteknologi, hingga penguatan sistem pascapanen dinilai mampu meningkatkan efisiensi sekaligus kualitas produk pangan. Dengan teknologi yang tepat guna, Indonesia diyakini dapat memperkuat daya saing produk pangan di pasar domestik maupun global.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa kedaulatan pangan tidak semata-mata diartikan sebagai swasembada produksi, tetapi juga kemampuan bangsa dalam menguasai teknologi dan mengelola sumber daya secara mandiri. Tanpa penguasaan teknologi, Indonesia berisiko terus bergantung pada impor dan terjebak dalam pola ekonomi berbasis bahan mentah.

Dalam paparannya, Prof. Rokhmin juga menyoroti persoalan skala usaha yang masih menjadi tantangan besar. Di sektor pertanian, misalnya, skala lahan yang sempit membuat penerapan teknologi modern menjadi tidak efisien. Rata-rata kepemilikan lahan petani yang kecil menyebabkan pendapatan sulit meningkat meski produksi dilakukan secara intensif.

Kondisi serupa juga terjadi di sektor perikanan. Banyak nelayan belum memanfaatkan teknologi penanganan hasil tangkap, seperti sistem pendingin dan pengolahan pascapanen, sehingga kualitas ikan menurun sebelum sampai ke pasar. Akibatnya, nilai jual hasil tangkapan menjadi rendah dan tidak sebanding dengan biaya operasional yang dikeluarkan.

Prof. Rokhmin menekankan pentingnya pendekatan menyeluruh dari hulu hingga hilir dalam pembangunan sektor pangan. Penerapan teknologi, menurutnya, harus terintegrasi dengan kebijakan pemerintah, dukungan riset perguruan tinggi, serta keterlibatan sektor swasta. Tanpa kolaborasi lintas sektor, upaya transformasi pangan akan berjalan lambat.

Ia optimistis, dengan komitmen kuat dan inovasi berkelanjutan, Indonesia mampu mewujudkan kedaulatan pangan sekaligus menjadikan sektor pangan sebagai motor penggerak ekonomi nasional yang berkeadilan dan berkelanjutan.

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow