Wayang Menyapa Zaman: HISKI Gelar Pidato Kesusastraan 2026 di Sukoharjo
MNAINDONESIA.ID - Di bawah langit Sukoharjo yang teduh, Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI) Pusat kembali meneguhkan denyut kebudayaan melalui Pidato Kesusastraan dan Diskusi Sastra 2026 yang digelar Jumat, 30 Januari 2026, di Universitas Veteran Bangun Nusantara (Univet Bantara). Acara yang berlangsung secara luring dan daring ini bukan sekadar pertemuan akademik, melainkan perayaan intelektual yang merajut tradisi, teks, dan tafsir dalam satu napas kebudayaan. Tema yang diangkat, “Wayang sebagai Cermin Kehidupan dan Falsafah Hidup Lintas Zaman”, menjadi jembatan antara masa silam dan masa kini.
Sejak awal, forum ini menghadirkan suasana khidmat sekaligus hangat. Para sarjana sastra, akademisi, kritikus, dan sastrawan dari Aceh hingga Papua berkumpul—sebagian hadir langsung, sebagian menyimak dari layar menandai bahwa sastra Indonesia hidup dalam jejaring yang melampaui batas geografis. Kehadiran Rektor Univet Bantara Prof. Dr. Farida Nugrahani, M.Hum., Ketua HISKI Komisariat Universitas Veteran Sukoharjo Dr. Mukti Widayati, Ketua Dewan Pakar HISKI Prof. Riris K. Toha Sarumpaet, Ph.D., serta Ketua Dewan Etik HISKI Prof. Manneke Budiman, Ph.D., mempertegas bobot intelektual forum ini.
Pidato kesusastraan disampaikan oleh Dr. Sri Teddy Rusdy, S.H., M.Hum., yang kemudian diperdalam melalui diskusi sastra bersama Prof. Dr. RM. Teguh Supriyanto, M.Hum., kritikus sastra Maman S. Mahayana, dan sastrawan Yanusa Nugroho. Diskusi mengalir dinamis, menempatkan wayang bukan sekadar artefak budaya, melainkan teks hidup yang terus ditafsir ulang oleh zaman.
Ketua Umum HISKI Pusat, Prof. Dr. Novi Anoegrajekti, M.Hum., dalam sambutannya mengatakan bahwa Pidato Kesusastraan 2026 adalah ruang kontemplasi sekaligus afirmasi atas peran sastra dalam membaca kehidupan. Menurutnya, wayang menyimpan lapisan-lapisan makna yang tak pernah habis digali. Ia adalah cermin tempat manusia bercermin—tentang kuasa dan kebijaksanaan, tentang kesetiaan dan pengkhianatan, tentang dilema etika yang terus berulang dalam sejarah manusia.
“Wayang bukan hanya milik masa lalu. Ia adalah teks kebudayaan yang terus berdialog dengan masa kini dan masa depan. Dalam sastra Indonesia, wayang telah menjadi sumber inspirasi yang subur, baik sebagai simbol, narasi, maupun kritik sosial,” ujar Prof. Novi dengan nada reflektif.
Ia juga memaparkan jejak kerja HISKI sepanjang 2025 yang menjadi fondasi pelaksanaan Pidato Kesusastraan 2026. HISKI menjalin kerja sama dengan Kementerian Kebudayaan melalui program Dana Indonesiana di Banyuwangi dan Palangka Raya, berkolaborasi dengan Perpustakaan Nasional dalam penyaduran 40 judul sastra klasik berjenjang, serta bekerja sama dengan Badan Bahasa dalam lokakarya penulisan dan apresiasi sastra berbasis kelokalan di Sukabumi dan Flores.
Di ranah penerbitan, HISKI menorehkan capaian penting melalui peluncuran buku Humaniora Digital, 100 Tahun Pramoedya Ananta Toer: Sastra, Politik Narasi, dan Kemanusiaan, serta Sastra Wayang. Buku terakhir, yang diluncurkan bertepatan dengan Pidato Kesusastraan ini, melibatkan puluhan penulis dari berbagai pelosok Nusantara, menghadirkan mozaik pemikiran tentang wayang dalam lintasan sastra dan budaya.
Menutup sambutannya, Prof. Novi menegaskan bahwa tahun 2026 akan diarahkan pada penguatan HISKI Komisariat. Bagi HISKI, sastra bukan sekadar wacana akademik, melainkan denyut kebudayaan yang harus terus dirawat dari pusat hingga daerah. Di Sukoharjo hari itu, wayang kembali menari—bukan di balik kelir, melainkan di ruang gagasan—mengingatkan bahwa sastra adalah cermin tempat bangsa membaca dirinya sendiri.
What's Your Reaction?