Peluncuran Buku 100 Tahun Pramoedya Ananta Toer Hadirkan Para Begawan Sastra
MNAINDONESIA.ID - Perbincangan hangat tentang sastra, politik narasi, dan kemanusiaan mewarnai acara Peluncuran dan Bincang Buku 100 Tahun Pramoedya Ananta Toer yang digelar di R. Widya Graha Lantai 1, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Jakarta, Selasa (9/12).
Kegiatan ini menghadirkan para pakar lintas institusi, mulai dari peneliti BRIN hingga akademisi nasional dan internasional.
Para pembicara yang hadir antara lain Dr. Sastri Sunarti, M.Hum., Kepala Pusat Manuskrip, Literatur, dan Tradisi Lisan BRIN; Prof. Dr. Novi Anoegrajekti, M.Hum., Ketua Umum HISKI; Prof. Dr. Faruk, S.U., dari Universitas Gadjah Mada; Dr. Abdullah Sumrahadi, M.Sc.; Dr. Herry Yogaswara, M.A., Kepala Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra BRIN; serta Eri Is Nur Mujiningsih, M.Hum., dari Pusat Riset Preservasi Bahasa dan Sastra BRIN. Acara juga melibatkan akademisi sekaligus President University & Associate Fellow IKMI IKMAS Universiti Kebangsaan Malaysia.
Dalam pemaparannya, Prof. Dr. Novi Anoegrajekti menegaskan bahwa peluncuran buku ini bukan sekadar perayaan satu abad kelahiran Pramoedya Ananta Toer, tetapi juga momentum membangun ulang kesadaran literasi kritis di tengah gempuran informasi global.
Ia menilai relevansi Pramoedya justru semakin kuat di masa ketika kejujuran, keberpihakan, dan nyali intelektual kerap berbenturan dengan tekanan politik dan ekonomi.
Prof. Novi juga mengenang kedekatannya dengan Dr. Sastri Sunarti, sebuah hubungan profesional yang telah terjalin lama. Bagi Prof Novi, pengalaman bertemu langsung dengan keluarga dan ruang hidup Pram menguatkan pemahaman akan kompleksitas sosoknya seorang yang menggabungkan keberanian politik dengan sensitivitas sastra.
Pramoedya Ananta Toer yang wafat pada 2006 dikenal sebagai aktivis politik, pemikir sosial, sastrawan, kritikus kebudayaan, sekaligus sejarawan. Pemikirannya mengenai keadilan, kemanusiaan, dan inklusivitas tetap memengaruhi pembacaan sastra hingga kini, baik di dalam maupun luar negeri. Warisannya inilah yang menjadi pusat diskusi bertajuk “Seratus Tahun Pramoedya Ananta Toer: Dari Sastra ke Sejarah, dari Kemanusiaan ke Perlawanan”.
Dr. Herry Yogaswara menekankan bahwa Pramoedya adalah penulis yang berhasil menjembatani sastra dengan identitas serta evolusi sosial masyarakat Indonesia. Menurutnya, kajian tentang Pram terus berkembang, terutama di kalangan generasi muda yang semakin tertarik pada literatur kritis dan narasi kebangsaan.
Sementara itu, Prof. Dr. Faruk memberikan analisis tajam mengenai politik narasi dalam karya-karya Pramoedya. Ia menyebut Pram selalu menghadirkan manusia sebagai makhluk yang berjuang di tengah kepungan struktur sosial dan kekuasaan. Perspektif inilah yang membuat karya Pram tak pernah kehilangan relevansinya, bahkan di tengah perubahan sosial dan teknologi.
Diskusi dipandu oleh Dr. Abdullah Sumrahadi, M.Sc., yang mengarahkan jalannya dialog agar tidak hanya membahas Pramoedya sebagai sosok masa lalu, tetapi sebagai inspirasi bagi perkembangan studi sastra, humaniora, serta kajian kritis di Indonesia. Abdullah menekankan pentingnya membaca kembali Pram dengan kacamata zaman kini, agar warisan gagasannya tetap hidup dan dapat dijadikan rujukan bagi generasi berikutnya.
Kehadiran keluarga Pram menjadi salah satu penanda penting dalam acara ini. Mereka memberikan kesaksian langsung tentang kehidupan pribadi Pram yang jarang tersentuh publik.Salah satu cucunya menyampaikan testimoni bahwa Pram adalah sosok yang sangat disiplin, menjunjung tinggi integritas, dan mandiri sejak muda hingga akhir hayatnya. Testimoni ini memberi gambaran lebih dalam mengenai karakter Pram yang selama ini lebih banyak dikenal melalui karya dan kiprah politiknya.
Acara ditutup dengan penegasan bahwa satu abad Pramoedya bukanlah sekadar peringatan, melainkan ajakan untuk kembali membaca, mempertanyakan, dan memperjuangkan suara kemanusiaan melalui sastra. Dialog tentang Pram, seperti yang terlihat dalam forum BRIN ini, menunjukkan bahwa karya dan gagasannya masih menjadi sumber inspirasi yang terus menyala dalam wacana kebudayaan Indonesia.
What's Your Reaction?