Seabad Setahun Asrul Sani: Menjaga Api Literasi dan Langkah Kreatif sang Maestro
MNAINDONESIA.ID - Memperingati 101 tahun lahirnya sang maestro, kolaborasi lintas lembaga menggelar perayaan bertajuk "Seabad Setahun Asrul Sani (1925–2026)" yang berlangsung pada 9–10 Juni 2026 di Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI, Jl. Medan Merdeka Barat, Jakarta.
Acara yang diinisiasi oleh Pelaku Sanggar Pelakon pimpinan Mutiara Sani, Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia (HISKI), dan Perpusnas RI ini bertujuan untuk mengenang kembali rekam jejak Asrul Sani sebagai budayawan, seniman, teaterawan, politikus, pendidik, sekaligus sineas legendaris Indonesia. Sementara rangkaian acara utama berlangsung dua hari, pameran khusus akan tetap dibuka untuk umum hingga 17 Juni 2026 di Lantai 4 Perpusnas RI.
Rangkaian peringatan diisi dengan enam agenda utama untuk mengulas pemikiran dan karya Asrul Sani:
-
Pameran "Jejak Langkah Kreatif Asrul Sani": Berlangsung pada 9–17 Juni 2026. Dikurasi oleh Dhianita Kusuma Pertiwi bersama tim, pameran visual ini berfungsi sebagai media edukasi dan apresiasi publik terhadap ketokohan Asrul Sani.
-
Dialog Budaya: Digelar pada Selasa (9/6) pagi, ruang diskusi ini membedah pemikiran Asrul Sani lintas disiplin. Acara yang dimoderatori Dr. Ibnu Wahyudi ini menghadirkan tokoh-tokoh besar seperti Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, Prof. Riris K. Toha-Sarumpaet, Shuri M. Gietty Tambunan, Eros Djarot, dan Fauzan Zidni.
-
Pemutaran Film Kemelut Hidup (1977): Karya sutradara Asrul Sani yang diadaptasi dari novel Ramadhan K.H. Film ini dibintangi Soekarno M. Noor, Mutiara Sani, dan Chitra Dewi, mengisahkan tentang peliknya persoalan ekonomi dan moral sebuah keluarga menjelang masa pensiun.
-
Ziarah Makam: Sebuah agenda khidmat untuk menghormati jasa dan dedikasi almarhum bagi dunia kebudayaan nasional.
Puncak acara pada Rabu (10/6) ditandai dengan peluncuran buku monumental berjudul "Seabad Setahun Asrul Sani: Intelektualitas, Jejak Karya, dan Sineas Indonesia".
Buku setebal total 1.784 halaman ini dibagi menjadi dua jilid (Jilid 1: 960 halaman, Jilid 2: 824 halaman), memuat 86 tulisan dari 141 penulis yang terdiri dari para pejabat (Menteri Kebudayaan, Menteri Agama, Menteri PPPA), akademisi, praktisi, hingga pihak keluarga. Buku yang diterbitkan oleh HISKI dan dicetak oleh Penerbit Kanisius Yogyakarta ini merangkum secara ilmiah pemikiran sang tokoh.
Peluncuran buku tersebut berjalan beriringan dengan Seminar Nasional "Asrul Sani dalam Dinamika Budaya Indonesia". Dibuka langsung oleh Kepala Perpusnas RI, Pimpinan Pelaku Sanggar Pelakon, dan Ketua Umum HISKI, seminar ini dibagi menjadi dua sesi besar:
-
Sesi 1: Menghadirkan pembicara Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra, Jamal. D. Rahman, Dr. Seno Gumira Ajidarma, dan Dr. Imam B. Prasodjo, dipandu oleh Dr. M. Yoesoef.
-
Sesi 2: Menghadirkan Prof. Dr. Faruk, Prof. Diah Ariani Arimbi, Dr. Tengsoe Tjahjono, Dr. Much Koiri, dan Hety Setiawati, dipandu oleh Sudartomo Macaryus.
Sekilas Jejak Sejarah Asrul Sani
Asrul Sani dikenal sebagai salah satu motor penggerak utama sastra Indonesia yang memelopori Angkatan '45 bersama Chairil Anwar dan Rivai Apin. Ia juga merupakan konseptor "Surat Kepercayaan Gelanggang" pada tahun 1950-an.
Di dunia seni pertunjukan dan layar lebar, ia ikut mendirikan Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI) serta menginisiasi berbagai regulasi perfilman nasional. Karya-karya besarnya yang abadi antara lain film Lewat Djam Malam, Al Kautsar (Apa yang Kau Cari Palupi?), Titian Serambut Dibelah Tujuh, dan Nagabonar, serta serial televisi legendaris Siti Nurbaya.
Selain aktif di dunia seni, Asrul Sani juga berkiprah di dunia politik praktis. Ia pernah menjadi Wakil Rakyat di DPR RI periode 1971–1976 mewakili PPP (unsur NU). Atas jasa-jasanya yang luar biasa, negara menganugerahinya Anugerah Seni pada tahun 1966 dan Bintang Mahaputera pada tahun 2000. Keseluruhan perayaan ini diharapkan mampu memperkuat literasi budaya masyarakat dan menginspirasi masa depan kebudayaan Indonesia.
What's Your Reaction?