Menyikapi Kenaikan BBM: Tetap Kritis di Jalur Publik, Bijak di Jalur Spiritual

Jun 10, 2026 - 06:28
Jun 10, 2026 - 06:28
 0
Menyikapi Kenaikan BBM: Tetap Kritis di Jalur Publik, Bijak di Jalur Spiritual

MNAINDONESIA.ID - Menyikapi kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dari sudut pandang materi murni sering kali hanya melahirkan kekecewaan dan rasa frustrasi. Namun, sebagaimana yang disoroti oleh Wakil Rektor 1 UNJ, Prof. Ifan Iskandar, masyarakat perlu menyeimbangkan antara penyampaian aspirasi objektif kepada pemerintah dan penyikapan dari sisi spiritual. Sudut pandang spiritual ini bukan bermaksud mengabaikan realitas ekonomi atau menghilangkan persoalan inti, melainkan sebuah strategi psikologis dan keimanan agar manusia tetap tangguh di tengah impitan hidup.

Dari lensa spiritual, keterbatasan materi yang hadir akibat naiknya harga BBM dapat dimaknai sebagai bentuk kasih sayang dan cara Tuhan untuk menjaga hamba-Nya agar tetap berada di jalan yang lurus. Ada sebuah kebenaran psikologis dan spiritual bahwa kelimpahan materi yang tidak dibarengi dengan kesiapan mental sering kali menjadi bumerang. Ketika semua serbapencukupan, manusia rentan terjebak dalam penyakit wahn atau cinta dunia yang berlebihan, yang membuat mereka lalai, sombong, dan melupakan hakikat kehidupan yang sementara. Keterbatasan ini, secara paradoks, bertindak sebagai "pagar pengaman" yang memaksa kita untuk terus membumi, berhemat, dan menjaga kedekatan dengan Sang Pencipta melalui doa dan kepasrahan.

Kondisi ekonomi yang mengetat ini adalah ruang ujian kesabaran yang nyata. Menghadapi kenaikan harga dengan hati yang lapang dan ikhtiar yang terukur akan melatih otot-otot spiritual kita untuk tidak bergantung pada kepemilikan materi, melainkan pada ketahanan mental. Saat ruang gerak material kita dipersempit, fokus manusia sering kali bergeser dari yang konsumtif menjadi lebih substansial: memperkuat solidaritas sosial, saling membantu antarsesama yang terdampak, dan mengevaluasi kembali skala prioritas hidup. Ini adalah bentuk kelolosan dari ujian keduniawian.

Tentu saja, cara pandang ini tidak boleh dijadikan alasan untuk bersikap apatis terhadap kebijakan publik. Seperti yang ditekankan Prof. Ifan, masukan terbaik dan kritik konstruktif terhadap problematika ini tetap harus disuarakan agar pemerintah tetap amanah dalam mengelola hajat hidup orang banyak. Namun, sembari proses struktural itu berjalan, benteng spiritual di dalam diri harus diperkuat.

Pada akhirnya, opini positif ini menawarkan keseimbangan yang indah. Kita tidak kehilangan daya kritis terhadap realitas inti, tetapi kita juga tidak kehilangan kedamaian batin. Kenaikan harga BBM diubah dari sekadar "beban ekonomi" menjadi sebuah momentum refleksi untuk membersihkan hati dari penyakit cinta dunia, sekaligus cara Tuhan memastikan bahwa dalam keterbatasan fisik, jiwa kita justru tumbuh menjadi lebih kaya, tangguh, dan selalu rida atas setiap ketetapan-Nya.

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow