Komaruddin Nursi Kasman Angkat Sejarah Tobelo-Galela di Forum Internasional Filipina
MNAINDONESIA.ID - Sosok muda, berwawasan internasional, berjiwa nasional, dan cinta budaya. Dialah Komaruddin Nursi Kasman Abdul Rahim, pria berusia 19 tahun yang kini duduk di semester 5 Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Putra ketiga Dr. Kasman Hi. Ahmad, M.Pd., Wakil Bupati Halmahera Utara, tersebut menunjukkan kiprahnya di panggung akademik internasional setelah mendapat undangan resmi dari National Historical Commission of the Philippines (NHCP) untuk mengikuti National Conference on Local History and Heritage.
Dalam forum tersebut, Komar, sapaan akrabnya, memaparkan karya ilmiah bertajuk “Balangingi & Tobelo-Galela: Dutch Newspaper Reports on Piracy and Slavery in Indonesian and Philippine Waters in the 19th Century.”Kajian itu mengangkat keterhubungan sejarah maritim antara Indonesia dan Filipina, khususnya Tobelo-Galela di pesisir utara Pulau Halmahera dengan kawasan maritim Filipina.
Melalui penelitian berbasis sumber sejarah, Komar menelaah pemberitaan surat kabar berbahasa Belanda pada abad ke-19 mengenai Tobelo-Galela dan komunitas maritim lainnya. Sumber tersebut memuat pemberitaan tentang aktivitas perompakan, penyerangan, penangkapan manusia, hingga perdagangan budak di kawasan perairan Indonesia bagian timur dan Filipina selatan.
Kajian tersebut juga memperlihatkan bahwa wilayah perairan Indonesia dan Filipina pada masa itu bukanlah ruang yang terpisah oleh batas-batas kolonial. Komunitas maritim bergerak dalam jaringan laut yang saling terhubung, mencakup Laut Sulawesi, Laut Halmahera, Kepulauan Maluku hingga kawasan Filipina. Dalam sumber yang diteliti, Tobelo dan Galela disebut sebagai dua komunitas yang tinggal di pesisir utara Halmahera dan berinteraksi dengan jaringan maritim yang lebih luas.
Bagi Komar, penelitian tersebut memiliki kedekatan emosional sekaligus intelektual. Latar keluarganya yang memiliki keterikatan dengan Galela mendorongnya untuk menggali kembali sejarah leluhur melalui tradisi lisan dan pengetahuan lokal yang kemudian dipadukan dengan metode penelitian sejarah yang dipelajarinya di bangku kuliah. Ia bahkan membuka peluang untuk mengembangkan kajian tersebut lebih jauh dalam penelitian akademiknya di masa mendatang.
Komar yang juga menjabat Ketua Himpunan Badan Keluarga Mahasiswa Sejarah (BKMS) FIB UGM 2026 tersebut mampu membawa isu sejarah lokal ke ruang akademik internasional. Pemaparannya membuat peserta konferensi memperoleh perspektif lebih luas mengenai warisan sejarah dan budaya Tobelo-Galela, sekaligus memahami bahwa sejarah lokal Maluku Utara memiliki keterkaitan erat dengan dinamika kawasan Asia Tenggara.
Namun, Komar tidak berhenti pada pembacaan sumber kolonial secara tekstual. Ia juga mengajak peserta melihat bagaimana narasi kolonial membentuk citra masyarakat maritim. Dalam kesimpulannya, pemberitaan surat kabar Belanda mengenai aktivitas Tobelo-Galela dan kelompok maritim lainnya turut dibingkai untuk memperkuat posisi politik pemerintahan kolonial dalam memberantas perompakan dan perdagangan budak. Karena itu, sumber-sumber tersebut perlu dibaca secara kritis dan tidak semata-mata dijadikan satu-satunya perspektif sejarah.
Kecintaan Komar terhadap sejarah lokal juga diwujudkan melalui karya buku. Pada 2026, ia menerbitkan buku berjudul “Perlawanan Rakyat Galela Tahun 1946–1949.” Karya tersebut memperlihatkan konsistensinya dalam mendokumentasikan sejarah masyarakat Maluku Utara sekaligus menghadirkan kisah lokal agar lebih dikenal oleh generasi muda.
Di usianya yang masih 19 tahun, kiprah Komar menjadi gambaran bahwa generasi muda Maluku Utara mampu mengambil bagian dalam percakapan akademik di tingkat internasional. Ia tidak hanya membawa nama almamater, tetapi juga memperkenalkan sejarah Tobelo-Galela kepada khalayak yang lebih luas.
Kehadirannya di forum sejarah Filipina sekaligus menjadi pengingat bahwa warisan budaya lokal memiliki nilai penting ketika dikaji dengan pendekatan ilmiah. Dari Halmahera hingga forum internasional, Komar membawa satu pesan bahwa sejarah daerah bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan identitas yang perlu dirawat, diteliti, dan diperkenalkan kepada dunia.
What's Your Reaction?