Sekolah Pasca Sarjana UNJ Gelar Wicara Pembelajaran Bahasa Indonesia Berbasis Projek
MNAINDONESIA.ID - Pembelajaran Bahasa Indonesia di perguruan tinggi dituntut tidak berhenti pada penguasaan teori dan tata bahasa. Mata kuliah wajib tersebut perlu diarahkan menjadi ruang pembentukan kemampuan berpikir kritis, bernalar, berkolaborasi, berkomunikasi, sekaligus memecahkan persoalan nyata di masyarakat.
Gagasan itu mengemuka dalam Gelar Wicara “Penguatan Pembelajaran dan Asesmen Bahasa Indonesia di Perguruan Tinggi Berbasis Projek” yang digelar Sekolah Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta (UNJ) bekerja sama dengan Bina Nusantara University dan Bumi Aksara, di lantai 5 Sekolah Pascasarjana UNJ, Kamis (20/8).
Kegiatan tersebut menghadirkan Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan pada Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan, Sains, dan Teknologi, Dr. Beny Bandanadjaja, S.T., M.T. Sejumlah pimpinan UNJ turut hadir, di antaranya Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Prof. Dr. Ifan Iskandar, M.Hum., Direktur Sekolah Pascasarjana UNJ Prof. Dedy Purwana, S.E., M.Bus.,
Pada kesempatan tersebut, Beny mengapresiasi para narasumber yang dihadirkan yakni Prof. Dr. Endry Boeriswati, M.Pd., Guru Besar Universitas Negeri Jakarta juga Koordinator Prodi S2-S3 Linguistik Terapan UNJ; Prof. Dr. Muhammad Rohmadi, S.S., M.Hum., Guru Besar Universitas Sebelas Maret; serta Dr. Frederikus Fios, S.Fil., M.Th., Ketua Program CBDC Bina Nusantara University.
Dalam paparannya, Beny mengatakan perguruan tinggi menghadapi perubahan zaman yang bergerak sangat cepat. Dunia kerja dan kehidupan sosial, kata dia, tidak lagi cukup membutuhkan lulusan yang hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga mampu menerapkan pengetahuan, menganalisis persoalan, dan menghadirkan solusi yang berdampak.
“Di sinilah pentingnya Outcome-Based Education (OBE),” ujarnya.
Menurut Beny, penerapan OBE menuntut perguruan tinggi merancang pembelajaran berdasarkan Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL), kemudian diturunkan menjadi Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK), pengalaman belajar yang relevan, hingga instrumen asesmen yang sahih dan autentik.
Orientasi tersebut juga menempatkan mahasiswa sebagai pusat pembelajaran. Model teacher-centered perlahan harus bergeser menuju pembelajaran yang memberi ruang lebih besar kepada mahasiswa untuk mengeksplorasi, menganalisis, menghasilkan karya, dan memecahkan masalah.
Beny menegaskan, Bahasa Indonesia memiliki posisi strategis karena merupakan salah satu Mata Kuliah Wajib pada Kurikulum (MKWK). Karena itu, pembelajarannya perlu dikaitkan dengan persoalan nyata dan kebutuhan masyarakat.
Salah satu pendekatan yang dinilai relevan adalah Project-Based Learning (PjBL), Case Method, serta asesmen autentik. Melalui pembelajaran berbasis projek, mahasiswa dapat diajak mengidentifikasi persoalan di masyarakat atau industri, membaca literatur, mengevaluasi informasi, berdiskusi, menyusun karya ilmiah maupun produk komunikasi, hingga mempresentasikan hasilnya.
Dengan pola tersebut, keterampilan menyimak, membaca kritis, menulis ilmiah, dan berbicara substantif tidak sekadar diajarkan sebagai teori, tetapi dipraktikkan dalam proses penyelesaian masalah.
Perubahan pembelajaran juga harus diikuti perubahan sistem penilaian. Asesmen tidak semata mengukur kemampuan menghafal kaidah bahasa, tetapi menilai kemampuan mahasiswa menggunakan bahasa untuk bernalar, memecahkan masalah, dan menghasilkan karya.
“Penilaian kinerja, portofolio, rubrik presentasi, hingga evaluasi reflektif merupakan bentuk asesmen autentik yang selaras dengan prinsip penjaminan mutu OBE,” kata Beny.
Gelar wicara ini menjadi bagian dari upaya memperkuat ekosistem pembelajaran Bahasa Indonesia di perguruan tinggi. Melalui pendekatan berbasis projek, pembelajaran diharapkan tidak berhenti pada penguasaan materi, tetapi berkembang menjadi proses yang mendorong kreativitas, kolaborasi, kemampuan berpikir kritis, dan penerapan kompetensi kebahasaan dalam konteks nyata.
What's Your Reaction?