Prof Rokhmin: Kolaborasi Pentahelix Penting untuk Wujudkan Ekonomi Bahari Berkelanjutan

Sep 2, 2026 - 16:42
Sep 2, 2026 - 16:52
 0
Prof Rokhmin: Kolaborasi Pentahelix Penting untuk Wujudkan Ekonomi Bahari Berkelanjutan

MNAINDONESIA.ID - Pentingnya penguatan kolaborasi pentahelix yang melibatkan akademisi, pelaku industri, pemerintah, masyarakat, dan media kembali ditegaskan untuk mendorong pembangunan berkelanjutan di bidang akuakultur, perikanan tangkap, hingga industri bioteknologi kelautan. Langkah strategis ini dinilai menjadi kunci utama untuk menjawab tantangan krisis ekologi global sekaligus mengoptimalkan potensi ekonomi maritim Indonesia menuju Indonesia Emas 2045.

Hal tersebut disampaikan oleh Anggota DPR RI sekaligus Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS, saat menjadi pembicara kunci dalam gelaran konferensi internasional 9th International Conference on Fisheries and Marine (INCOFIMS) dan 7th International Conference on Biotechnology and Food Science (INCOBIFS) di Ruang Sriwijaya, Gedung ASSEEC Tower, Kampus B Universitas Airlangga (UNAIR), Surabaya, Rabu (2/9/2026).

Lebih lanjut, Prof Rokhmin menyoroti besarnya potensi ekonomi maritim Indonesia yang diperkirakan mencapai US$ 1,4 triliun per tahun. Angka tersebut setara dengan enam kali lipat APBN atau 1,2 kali produk domestik bruto (PDB) nasional, serta berpotensi menyerap hingga 45 juta tenaga kerja. Meski demikian, pemanfaatan potensi perikanan dan akuakultur nasional saat ini baru mencapai 20,4 persen.

"Tantangan utama kita bukan pada ketersediaan sumber daya, melainkan bagaimana meningkatkan produktivitas, keberlanjutan, penciptaan nilai tambah, serta pemerataan hasilnya," kata mantan Menteri Kelautan dan Perikanan di era Presiden Megawati dan Gus Dur.

Berdasarkan data Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) 2026, produksi perikanan dan akuakultur global mencatatkan rekor baru sebesar 235 juta ton pada 2024, di mana akuakultur menjadi motor penggerak utama pertumbuhan pangan hayati. Indonesia sendiri mempertahankan posisinya sebagai produsen akuakultur terbesar kedua di dunia setelah Tiongkok. Pada 2025, total produksi perikanan Indonesia mencapai 26,26 juta ton dengan nilai ekspor sebesar US$ 6,27 miliar.

Meski produksi fisik dan kinerja ekspor terus meningkat, kontribusinya terhadap perbaikan gizi masyarakat dinilai belum maksimal. Tingkat stunting pada anak di Indonesia yang masih berada di angka 19,8 persen menunjukkan adanya ketimpangan antara ketersediaan pangan laut dengan aksesibilitas masyarakat terhadap nutrisi berkualitas.

Di samping itu, sektor akuakultur dan perikanan nasional masih dihadapkan pada sejumlah kendala struktural. Lebih dari 75 persen unit usaha perikanan di Indonesia masih berskala tradisional dengan tingkat produktivitas dan efisiensi yang rendah. Keterbatasan modal, minimnya infrastruktur pendingin (cold chain), maraknya praktik Illegal, Unreported, and Unregulated (IUU) Fishing, hingga ancaman perubahan iklim menjadi tantangan serius yang membutuhkan penanganan lintas sektor.

Selain membenahi sektor konvensional, Prof Rokhmin mendorong pengembangan bioteknologi kelautan sebagai industri masa depan (emerging sector). Sektor ini mencakup ekstraksi senyawa aktif untuk industri farmasi, kosmetik, pangan fungsional, pembuatan bahan hayati (biomaterials), pembersihan limbah melalui bioremediasi, hingga pengembangan energi terbarukan berbasis mikroalga.

Model pentahelix dipandang sebagai kerangka kerja ideal untuk mengatasi berbagai hambatan tersebut. Akademisi berperan menghasilkan riset dan inovasi tepat guna, industri melakukan komersialisasi dan penyediaan rantai pasok, pemerintah memfasilitasi regulasi dan infrastruktur dasar, masyarakat bertindak sebagai pelaku utama, sementara media memperkuat pengawasan serta edukasi publik.

Sebagai anggota legislatif, Prof Rokhmin berkomitmen memaksimalkan tiga fungsi DPR yakni fungsi legislasi, penganggaran, dan pengawasan  guna memastikan terciptanya kebijakan ekonomi biru yang adaptif, ramah investasi, dan berpihak pada kesejahteraan nelayan maupun pembudidaya ikan.

 

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow