Dari Sepotong Tempe, Lahir Gagasan Besar
Siapa bilang tempe hanya pantas menjadi lauk pendamping nasi?
MNAINDONESIA.ID - Pertanyaan sederhana itu justru membuka ruang bagi sebuah gagasan besar. Di tangan sekelompok mahasiswa Universitas Terbuka (UT) Medan, tempe yang selama ini identik dengan makanan rumahan dan sering dianggap “makanan zaman old” disulap menjadi sesuatu yang jauh lebih modern: cokelat tempe.
Inilah BlissBean, sebuah inovasi yang lahir bukan dari laboratorium berteknologi tinggi, melainkan dari keberanian melihat sesuatu yang biasa dengan cara yang tidak biasa.
Melalui program Pengabdian kepada Masyarakat skema Kewirausahaan yang memperoleh pendanaan dari LPPM Universitas Terbuka, tim mahasiswa mengusung gagasan bertajuk “BlissBean: Inovasi Coklat Tempe sebagai Upaya Optimalisasi Nilai Jual dan Pelestarian Cita Rasa Tradisional.”
Bagi saya, yang menarik dari BlissBean bukan semata-mata produk cokelatnya. Yang jauh lebih penting adalah cara mahasiswa memandang potensi yang selama ini berada di depan mata.
Tempe adalah bagian dari keseharian masyarakat Indonesia. Murah, mudah ditemukan, kaya protein, dan telah menjadi bagian dari tradisi kuliner. Namun, persoalannya justru terletak pada kedekatannya itu sendiri. Sesuatu yang terlalu akrab sering kali kehilangan daya tarik, terutama di mata generasi muda.
Di sinilah inovasi mengambil peran.
Ketika tempe bertemu cokelat, muncul sebuah pertanyaan baru: apakah makanan tradisional harus meninggalkan identitasnya agar diterima zaman?
BlissBean memberikan jawaban yang menarik: tidak perlu. Tradisi tidak harus ditinggalkan untuk menjadi modern. Tradisi justru dapat diperbarui tanpa kehilangan akar.
Dark Chocolate Tempe, Milk Chocolate Tempe, dan Strawberry Chocolate Tempe menjadi bukti bahwa kreativitas dapat menjembatani dua dunia: cita rasa tradisional dan selera generasi kekinian.
Lebih jauh lagi, inovasi ini menunjukkan bahwa kewirausahaan mahasiswa seharusnya tidak berhenti pada kemampuan menjual produk. Kewirausahaan adalah kemampuan membaca persoalan, menemukan peluang, kemudian mengubahnya menjadi sesuatu yang memiliki nilai ekonomi dan sosial.
BlissBean berangkat dari keresahan sederhana: tempe yang bernilai gizi tinggi dan ekonomis kurang diminati anak muda karena pilihan olahannya dianggap monoton. Pada saat yang sama, cokelat memiliki daya tarik emosional dan sangat dekat dengan budaya konsumsi anak muda.
Dua hal yang tampaknya berbeda itu kemudian dipertemukan.
Di situlah kreativitas bekerja.
Kemasan yang modern, higienis, dan Instagramable juga memperlihatkan bahwa produk tradisional tidak cukup hanya memiliki rasa yang enak. Di era ekonomi kreatif, cerita, tampilan, identitas, dan pengalaman konsumen adalah bagian dari nilai produk.
Karena itu, BlissBean sesungguhnya sedang menjual lebih dari sekadar cokelat. Ia menjual cerita tentang bagaimana tempe—yang selama ini mungkin hanya dianggap lauk sederhana—dapat naik kelas menjadi produk kreatif yang memiliki nilai jual.
Kesuksesan tersebut tentu tidak lahir sendirian. Ada proses pendampingan akademik yang penting di belakangnya. Eka Evriza, S.Sos., M.I.Kom., selaku dosen pembimbing, mengawal tim sejak perumusan gagasan hingga pelaksanaan kegiatan di lapangan.
Dukungan kelembagaan juga menjadi energi penting. Direktur UT Medan Yasir Riady memberikan apresiasi dan dorongan agar BlissBean terus berkembang, semakin dikenal masyarakat, sekaligus menjadi inspirasi bagi mahasiswa lainnya.
Sementara itu, Alda Nazwa Raihani sebagai ketua pelaksana bersama Chaya Dwi Angel Lubis dan Nur Hidayah Lubis menunjukkan bahwa mahasiswa tidak harus menunggu lulus untuk menjadi pelaku ekonomi kreatif.
Mereka bisa mulai dari sekarang.
Bahkan, mereka bisa mulai dari dapur rumah sendiri.
Inilah pelajaran penting yang sering terlupakan. Kita kerap membayangkan inovasi harus lahir dari gedung penelitian yang megah, perangkat mahal, atau modal besar. Padahal, banyak inovasi justru bermula dari pertanyaan sederhana: “Bagaimana kalau sesuatu yang biasa kita ubah menjadi luar biasa?”
BlissBean menjawab pertanyaan itu dengan sepotong tempe.
Namun, pesan yang dibawanya jauh lebih besar.
Ia berbicara tentang keberanian anak muda untuk mencoba. Tentang pendidikan yang tidak berhenti di ruang kelas. Tentang pengabdian yang menghasilkan keberlanjutan. Tentang budaya yang tidak sekadar dilestarikan, tetapi diberi kehidupan baru.
Pada akhirnya, menjaga kuliner tradisional bukan berarti membekukannya dalam bentuk lama. Pelestarian justru dapat dilakukan dengan membuat tradisi tetap relevan bagi generasi yang berbeda.
Tempe tidak harus selamanya hadir di atas piring sebagai lauk.
Ia bisa menjadi cokelat.
Ia bisa menjadi oleh-oleh.
Ia bisa menjadi hadiah.
Dan yang paling penting, ia bisa menjadi simbol bahwa inovasi besar sering kali tidak membutuhkan bahan yang mahal. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk melihat sesuatu yang sederhana dengan perspektif yang berbeda.
Dari sepotong tempe, mahasiswa UT Medan sedang mengajarkan satu hal kepada kita: jangan pernah meremehkan sesuatu hanya karena kita terlalu sering melihatnya.
Sebab, bisa jadi, di balik sesuatu yang sederhana itu tersimpan masa depan ekonomi kreatif Indonesia.
What's Your Reaction?