Di Pengukuhan Guru Besar UNJ, Prof. Ratna Gagas Metode PTBD untuk Literasi Ilmiah
MNAINDONESIA.ID - Pembelajaran berbasis data kini menjadi kunci utama dalam membedah fenomena neologisme di era digital, sebagaimana disampaikan Prof. Ratna Dewanti dalam orasi ilmiah pengukuhannya sebagai Guru Besar Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Selasa (7/7/2026).
Prof. Ratna awali kajian ilmiah bertema " "Literasi Ilmiah pada Afiksasi Bahasa Inggris melalui Pembelajaran Transformatif Berbasis Data," dengan mengutip pemikiran filosofis terkenal dari Ludwig Wittgenstein dalam Tractatus Logico-Philosophicus, "The limits of my language mean the limits of my world," yang menjadi refleksi penting bagi para akademisi. Di era abad ke-21 yang dinamis, batas kemampuan bahasa ilmiah merepresentasikan sejauh mana kita mampu berpikir kritis, menyusun argumentasi yang kokoh, serta memberikan kontribusi nyata bagi perkembangan ilmu pengetahuan.
Menurut Prof Ratna, kemampuan berbahasa secara ilmiah bukan sekadar pemenuhan akademis, melainkan penentu cakrawala intelektual seseorang di abad ke-21.
"Era digital memicu produktivitas kebahasaan yang masif melalui afiksasi. Istilah-istilah seperti deplatforming, cyber-security, YouTuber, hingga fenomena doomscrolling bukan lagi bahasa pinggiran, melainkan inti dari dinamika leksikon bahasa Inggris kontemporer saat ini," ujar Prof. Ratna di hadapan dewan senat dan tamu undangan.
Merujuk pada data News on the Web (NOW) Corpus periode 2010–2026, terjadi lonjakan dramatis pada penggunaan neologisme digital. Prof. Ratna mencontohkan bagaimana fenomena doomscrolling melonjak tajam pasca-2019 yang berkorelasi erat dengan situasi pandemi COVID-19. Perubahan arus bahasa yang sangat cepat di era VUCA dan BANI inilah yang mendasari urgensi literasi ilmiah dalam pembelajaran morfologi bahasa.
Sebagai solusi konkret, ia menawarkan kerangka pedagogis integratif yang disebut Pembelajaran Transformatif Berbasis Data (PTBD). Metode ini menempatkan data bahasa riil sebagai pusat pembelajaran untuk memandu siswa melalui tiga tahapan kognitif: akomodatif (mengenali pola familiar), reflektif (mempertanyakan sistem bahasa), hingga tahap transformatif, di mana pelajar mampu menjadi peneliti bahasa mandiri yang kritis.
Melalui model relasional yang mengombinasikan teori orisinal dari para pakar dunia seperti Mezirow, Norris & Phillips, hingga standar OECD, afiksasi diposisikan sebagai pintu masuk strategis menuju literasi ilmiah yang utuh. Siswa diajak bermigrasi dari sekadar menghafal struktur menuju pemahaman kritis dan kepemilikan kompetensi linguistik digital.
"Dari ruang kelas afiksasi, kita berkomitmen membentuk lulusan yang kritis, adaptif, berbasis data, dan siap menjelaskan perubahan bahasa di era digital," pungkas Prof. Ratna.
Pengukuhan ini diharapkan mampu membawa angin segar bagi transformasi kurikulum dan metodologi pengajaran bahasa Inggris di Indonesia.
What's Your Reaction?