Menjinakkan Kebisingan Digital: Membaca Kedangkalan Narasi Medsos Lewat Linguistik

May 25, 2026 - 04:01
May 25, 2026 - 04:02
 0
Menjinakkan Kebisingan Digital: Membaca Kedangkalan Narasi Medsos Lewat Linguistik

MNAINDONESIA.ID - Dunia digital hari ini telah berubah menjadi pasar malam yang bising, di mana setiap orang berebut pengeras suara. Saban hari, garis lini masa kita dijejali oleh individu yang gemar berkoar-koar, melempar provokasi, dan memosisikan diri sebagai pemegang otoritas kebenaran tunggal. Riuhnya tepuk tangan virtual berupa likes dan shares mendadak dikultuskan sebagai tolok ukur harga diri. Namun, jika kita bersedia menepi sejenak dan membedah fenomena ini melalui kacamata linguistik, kita akan menyadari bahwa kegaduhan tersebut sebenarnya adalah sinyal darurat dari sebuah pendangkalan budaya berbahasa.

Dalam ranah Pragmatik, konsep tindak tutur (Speech Acts) yang digagas oleh filsuf bahasa John Searle dapat membedah bagaimana bahasa mengalami pergeseran fungsi yang akut di era algoritma. Searle membagi tindak tutur ke dalam beberapa kategori, termasuk assertive (menyatakan kebenaran) dan expressive (menunjukkan sikap emosional). Di media sosial, yang terjadi adalah perkawinan egois antara keduanya: penutur melontarkan pernyataan asertif yang provokatif dengan bungkus ekspresif yang meledak-ledak. Bahasa tidak lagi dirajut untuk membangun jembatan pemahaman dua arah, melainkan dimanipulasi melalui pilihan diksi yang sarkastis demi memicu reaksi psikologis massa sekaligus memuaskan delusi superioritas. Ketika seseorang merasa paling benar dan mengabaikan prinsip kesantunan, terjadi kegagalan pragmatik yang fatal. Bahasa yang seharusnya bersifat ekologis merawat harmoni sosial telah direduksi menjadi sekadar panggung validasi ego sepihak.

Secara sosiolinguistik dan kognitif, kebebalan verbal ini hanyalah topeng kosmetik untuk menutupi kemiskinan kompetensi di dunia nyata. Hal ini sejalan dengan pandangan bapak linguistik modern, Noam Chomsky, mengenai ketimpangan antara competence (pengetahuan bahasa abstrak yang mendalam di otak) dan performance (realisasi konkret bahasa yang tampak). Media sosial hari ini melahirkan anomali: ia dipenuhi oleh manusia dengan performance verbal yang sangat bising, namun miskin competence. Ujaran-ujaran provokatif yang lahir menjadi sangat impulsif karena diproduksi tanpa melewati filter kontrol kognitif yang matang. Variasi gaya bahasa (stylistic variation) yang agresif sengaja diproduksi sebagai jalan pintas untuk memalsukan otoritas diri, padahal isi otaknya kosong.

Menghadapi hegemoni wacana provokasi yang destruktif ini, kita membutuhkan sebuah wacana perlawanan (counter-discourse). Melalui Teori Analisis Wacana Kritis yang dikembangkan oleh Norman Fairclough, kita diingatkan bahwa bahasa melambangkan praktik kekuasaan. Fairclough menegaskan bahwa wacana tidak hanya merefleksikan realitas sosial, tetapi juga membentuknya. Ketika ruang publik digital dibiarkan dikuasai oleh narasi yang manipulatif, maka kualitas sosial kita akan ikut memburuk. Oleh karena itu, kita ditantang untuk meredefinisikan kembali apa arti "suara yang lantang". Kekuasaan bahasa yang sejati tidak lahir dari seberapa keras kita berteriak atau seberapa lihai kita bersilat lidah di kolom komentar, melainkan dari kedalaman substansi.

Pada akhirnya, saya mengajak anda untuk menikmati kopi linguistik yang tersaji sambil sedikit berfikir, tak perlu banyak karena banyak pun anda tak mampu berfikir, karena sudah sempit isi otak dengan segala asumsi liar di dunia ini.

Hal ini terjadi karena dunia ini memang diisi oleh banyak manusia, ada yang memang hidup apa adanya, ada pula yang haus akan validasi. Nikmati saja, sambil ambil kaca pembesar dan mulai melihat diri kita masing-masing dalam versi terbaik sembari mulai mengilhami bahwa keselarasan antara intelektual (isi otak) dan integritas moral (isi hati) adalah kunci utama melahirkan persona yang berwibawa tanpa perlu berkoar dengan narasi provokasi seolah bukan provokator, loh loh kok bisa, baru sadar anda.

Mari ubah energi yang biasa habis untuk merespons kebisingan di luar sana menjadi bahan bakar untuk mengasah kualitas diri. Biarkan karya nyata kita yang berbicara dengan suaranya sendiri—sebuah bahasa baru yang sunyi dari kegaduhan, namun bergaung kuat, elegan, dan berwibawa di tempat tertinggi.

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow