HISKI Dorong Dokumentasi Sastra, Buku Asrul Sani Tembus 1.784 Halaman
MNAINDONESIA.ID - Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia (HISKI) menegaskan pentingnya buku sebagai medium dokumentasi dan pewarisan pengetahuan sastra di tengah berkembangnya teknologi audio-visual. Pandangan itu disampaikan Ketua Umum HISKI Prof. Dr. Novi Anoegrajekti, M.Hum. dalam kegiatan Tukar Tutur Buku Seabad Setahun Asrul Sani: Intelektualitas, Jejak Karya, dan Sineas Indonesia, Jumat (14/8/2026).
Prof Novi mengatakan dokumentasi dalam bentuk buku tetap memiliki posisi penting meskipun masyarakat kini semakin akrab dengan berbagai platform digital.
"Kami sangat bersyukur sekali karena proses pendokumentasian buku tersebut telah dilakukan sejak 2020 dengan melibatkan penulis dari Aceh hingga Papua," ujarnya.
“Seabad Setahun Asrul Sani” menjadi salah satu karya kolaboratif HISKI yang memiliki ketebalan 1.784 halaman dan disebut sebagai rekor sementara dalam rangkaian penerbitan buku organisasi tersebut. Sebelumnya, HISKI telah menerbitkan sejumlah buku, antara lain Sastra Pariwisata (2020), Sastra Rempah (2021), Sastra Maritim (2022), Sastra Horor (2024), Seratus Tahun A.A. Navis (2024), Humaniora Digital (2025), Seratus Tahun Pramoedya Ananta Toer (2025), Sastra Wayang (2025), dan Seabad Setahun Asrul Sani (2026).
Guru Besar UNJ itu juga menjelaskan, buku cetak memiliki keunggulan sebagai dokumen fisik yang dapat disimpan dalam jangka panjang. Selain itu, keberadaan buku memungkinkan pembaca berinteraksi langsung dengan karya dan berpotensi menarik perhatian pengunjung perpustakaan melalui bentuk fisik, ketebalan, sampul, maupun ilustrasinya.
Ia juga menyebut buku-buku yang diterbitkan HISKI mendapat perhatian dari Library of Congress Amerika Serikat. Setiap judul disebut dipesan sebanyak delapan eksemplar untuk dikoleksi dan dibagikan kepada sejumlah universitas ternama di Amerika, termasuk Massachusetts Institute of Technology (MIT) dan Harvard University.
Meski menekankan pentingnya buku, Prof Novi menegaskan HISKI tidak mengabaikan perkembangan media audio-visual. Produk digital juga menjadi bagian dari strategi dokumentasi sastra, antara lain melalui tayangan kegiatan Tukar Tutur, Sekolah Sastra, serta pengembangan karya sastra ke dalam bentuk animasi dan audio-visual.
Menurutnya, dokumentasi melalui buku dan media digital harus berjalan beriringan. HISKI berharap penerbitan bersama dapat menghidupkan ekosistem penerbitan dan percetakan, memudahkan penyimpanan pengetahuan, sekaligus menjadi bagian dari sejarah sastra Indonesia.
Ia juga mendorong akademisi kembali menulis buku agar gagasan dapat disampaikan secara utuh, bukan hanya dalam bentuk artikel jurnal yang cenderung memuat bagian tertentu dari pemikiran.
Ke depan, HISKI membuka peluang mendokumentasikan perjalanan sastrawan lain melalui penerbitan bersama. Setelah buku tentang A.A. Navis, Pramoedya Ananta Toer, dan Asrul Sani, HISKI kini memproses buku Taufiq Ismail: Suara Nurani, Benteng Bangsa sebagai bentuk dukungan terhadap usulan Taufiq Ismail meraih Nobel Sastra.
What's Your Reaction?